Jumat, 01 Februari 2013

ESAI : Ria Ristiana Dewi



Sastra yang Men-Dunia

 

Suatu Hari, Dunia Mencari Indonesia?
             Indonesia bisa saja pesimistis masalah kesejahteraan, namun optimistik harus dibangun pada sastra. Bisalah dikatakan Jhon H. Mcglynn bahwa budaya dan sastralah penggeraknya. Jhon merupakan penulis asal Amerika Serikat yang saat ini mendapatkan kepercayaan dari pemerintah Indonesia mengembangkan dan memperkenalkan sastra dan budaya Indonesia di tingkat internasional.  
Melalui www.lontar.org, Jhon menawarkan pada dunia bahwa Indonesia memiliki kreativitas berkarya lewat tulisan. Sehari itu, tanggal 7 Desember 2011, seminar internasional yang diadakan penyelenggara JILFEST (Jakarta International Literary Festival) menampilkan Jhon dari Amerika sebagai pembicara.
Dikatakannya, beberapa buku sastra Indonesia telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris, di antaranya: Never the Twain karya Abdul Muis, Shackles oleh Armin Pane, the fall and the heart oleh S. Rukiah, Mirah of Banda oleh Hanna Rambe, Family Room oleh Lili Yulianti Farid, And The War is Over oleh Ismail Marahimin, The Pilgrim oleh Iwan Simatupang, Siti Nurbaya oleh Marah Rusli, Telegram oleh Putu Wijaya, Supernova oleh Dewi Lestari, dan masih banyak lagi.
            Lebih jauh, Jhon dalam makalahnya di ajang Jilfest, mengungkapkan: “Walaupun Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar keempat di dunia, pengetahuan di luar negeri mengenai Indonesia masih sangat terbatas. Di luar bidang akademik, informasi yang dapat diperoleh di luar negeri mengenai Indonesia pada umumnya terbatas pada artikel berita yang muncul di koran atau acara berita yang ditayangkan di televisi.  
Dan apa yang dimunculkan di situ kalau bukan berita mengenai pemboman teroris di Bali dan Jakarta, gempa bumi di Yogya, tsunami di Aceh, penembakan orang di Papua, masalah hak asasi manusia, korupsi, dan lain sebagainya. Masalah-masalah tersebut memang terjadi dan perlu diberitakan.
Namun demikian, sangat disayangkan bahwa meningkatnya profil Indonesia sebagai sumber berita bencana bagi pemirsa global tidak dibarengi dengan usaha menyeimbangkan informasi tersebut dengan berita tentang kehidupan budaya dan intelektual Indonesia.”

 “Mampu” Memperkenalkan Indonesia
            Peluang memperkenalkan Indonesia ke tingkat global ini sedang terjadi pada dunia sastra. Pada akhirnya kebudayaan Indonesia yang begitu beranekaragam optimis menjadi bahan, dan sastra adalah alatnya. Saat seminar yang berlangsung di Hotel Milenium Jakarta tanggal 7 Desember 2011 itu, ruang-ruang terbuka membicarakan sastra yang memperkenalkan budaya Indonesia diperhelatkan.
Seorang budayawan, Sujiwo Tejo berseteru bahwa sebaiknya puisi-puisi berbahasa daerah tidak serta merta ditikam mati, sebab pada dasarnya puisi berbahasa daerah memiliki kekuatan makna dan kelangkaan kosa kata. Selain itu, bunyi yang dihasilkan juga berbeda. Hal ini diungkapkan atas dasar sastra yang kemudian hanya memakai bahasa Indonesia dari waktu ke waktu.
Beberapa karya yang berbahasa daerah tidak begitu mendapatkan antusias sebab lebih banyaknya karya daerah yang hendaknya tetap memakai bahasa Indonesia sebagai pengantarnya. Perkenalan budaya yang terjadi di kemudian hari adalah budaya Indonesia yang tidak mencerminkan “Bhineka Tunggal Ika”.
            Hal ini memang terkait sastra lama dan sastra modern. Belakangan ini sastra modern lebih banyak mendominasi, dan budayawan seperti Sujiwo Tejo menilai, perkembangan sastra ini justru tidak memberi dampak berarti untuk mempertahankan keaslian kebudayaan daerah masing-masing di nusantara.
Diperpanjang pula dengan pihak Yayasan Lontar yang diasuh Jhon H. Mcglynn menerjemahkan beberapa karya sastra Indonesia yang modern tadi. Hal ini membuat beberapa budayawan mempertanyakan apakah budaya modern dapat mewakili kebudayaan lama yang notabene adalah kebudayaan asli beberapa daerah di Indonesia.
            Jhon mengatakan, puisi-puisi pada umumnya memiliki pemaknaan yang sangat bergantung pada kosa kata dan keluaran bunyi yang dihasilkan pada puisi. Apabila kemudian bahasa-bahasa daerah ini diterjemahkan ada kemungkinan makna dan bunyinya tidak sampai, pembaca akan kesulitan dan tidak memahami maksudnya. Ini adalah pekerjaan yang hampir dikatakan sia-sia.
            Pada umumnya, hambatan-hambatan yang kerap terjadi pada penerbitan buku-buku sastra terjemahan tidak jauh berbeda. Yayasan Lontar juga mengalami banyak sekali hambatan. Di dalam dunia penerbitan, khususnya penerbitan sastra terjemahan, hambatan macam-macam, termasuk kualitas karya dan ongkos penerbitan, namun yang paling mendasar itu sesungguhnya adalah visi dari pihak pemerintah.

Medan Mau ke Mana?
            Di Medan, visi pemerintah ini juga hanya menjadi bayangan bagi penulis lanjutan. Mau dibawa ke mana penulis kita? Bila melihat beberapa pekan ini, ada banyak sekali muncul perlombaan-perlombaan di Medan, akan tetapi perlombaan ini hanya sebatas pada tingkat pelajar, sementara di sudut sana di tempat yang entah, Medan memiliki generasi yang dahulu pelajar semakin lama semakin menua, semakin lama semakin membutuhkan ruang.
Namun, perhatian pemerintah hanya sepanjang galah. Penulis-penulis itu diundang baik menjadi peserta maupun pembicara membawa nama Medan dengan tanpa dukungan pemerintah Medan. Mereka itu menguras uangnya sendiri demi Medan, Medan yang tercinta! Sudah selayaknya pemerintah memberi ruang bagi sastrawan senior agar mampu mengembangkan sayapnya, agar mampu meneruskan usaha-usaha Chairil Anwar.
            Belakangan pemerintah juga kerepotan untuk mencairkan dana-dana sastra ini, belakangan pemerintah mengeluh minimnya pemasukan. Entahlah, apakah itu benar, jadi apa mungkin Medan, kota terbesar ketiga di Indonesia nihil dana untuk sastra?
            Beberapa buku di Medan akhir-akhir ini kurang diperhatikan, beberapa penulis akhir-akhir ini lagi-lagi menguras uangnya. Namun beberapa pihak akhir-akhir ini pula sedang berupaya menilik terus pemerintah dan terus menerus berkarya agar kelak akhirnya percaya usaha para penulis/sastrawan itu tidak sia-sia.
Beberapa jelang ke depan, Pesta Danau Toba digelar, para sastrawan Medan akan menghadirinya. Beberapa telah bersiap pula menegakkan penanya untuk memperkenalkan budaya Sumatera Utara. Pemerintah mesti bergegas mendukung para sastrawan muda dan senior ini.

Buku Anak Medan Tertatap ke Internasional?
            Ya, akhirnya apabila cita-cita sastrawan Medan itu tercapai, keseriusan ini akan diteruskan dengan mengundang beberapa sastrawan internasional. Saya sangat berharap kelak  Yayasan Lontar tadi juga melirik ketertarikan pada Medan dan menawarkannya ke tingkat Internasional setelah sebelumnya yayasan ini juga memperkenalkan budaya Jawa, maka Sumatera Utara adalah selanjutnya!**

Serambi KOMPAK, 10 Desember 2011



Penulis adalah mahasiswa bahasa dan sastra Indonesia Unimed dan anggota Komunitas Penulis Anak Kampus (KOMPAK)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar