Minggu, 24 November 2013

EYANG KEMBARA


Cerpen : Otang K.Baddy


I
ni kisah sang kembara, seorang penyair tak ternama. Kendati ada yang menyebut telah gila, namun kedatangannya kusambut sebagai seorang guru.
       Selama berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Selama kepergiannya itu, ia terombang-ambing di tengah lautan, di atas sebatang pohon pisang bernama al-baqa. Dipermainkan angin, dihantaman badai ganas dan musim-musim. Tak dianggapnya suatu petaka atau musibah yang menimpa , melainkan ia terima sebagai sebuah jalan yang mesti ditempuh.
       Laut memang selalu bergelombang.
       Kendatipun air matanya terus meleleh, namun itu bukan tangis cengeng atau kesedihan. Bukan pula tangis ketakutan. Melainkan itu tangis kebahagiaan. Bahagia yang tiada tara. Juga tangis insan yang lemah di hadapan khaliknya. Merasa seorang yang bodoh di hadapan sang guru --seorang yang kerap mendapinginya dalam pengembaraan ini.
      Makanya ia tak merasa sendiri. Kendati kegetiran demi kegetiran kerap menyergap dan menawarkan kematian, ia jalani terus. Asalkan jangan kematian itu yang dihendaki,  niscaya terkabul dan dijamin keselamatannya.
       Kesaksian itu ia utarakan di dekatku dan kedua orangtuanya.  Saat itu ia mau mengambilkan sedikit nasi buat makan sore setelah sebelumnya ditawar-tawarkan ibunya. Si ayah merasa senang karena ia datang dari kepergiannya berpuluh tahun. Sempat berguyon dan menyamakan akan pendapat orang pintar, yang menyatakan ia sudah lama berada di tepi pesisir selatan. Entah seakan merasa ditebak oleh paranormal yang sok tahu atau apa, ia menjawabnya: “Bukan di pesisir tapi di tengah lautan,” katanya, ya seperti dituturkan tadi ceritanya.
        Bersambung di lain waktu saat malam santai seraya minum kopi pahit dan melinting tembakau. Apa yang dialaminya di laut dan negeri kutub, semata-mata hanya menuruti apa yang diperintahkan gurunya. Meski timbul keraguan, entah kutub mana yang ia maksud. Sebab ia tak menyebut selatan atau utara, sementara aku tak berani bertanya. Barangkali aku terbius atau sengaja membiuskan diri untuk sekedar ingin tahu, kalau tak mau dikatakan berguru. Dengan catatan: biarlahlah ia mengalirkan kata-kata sepuasnya. Jika lezat akan kucerna, sebaliknya jika pahit atau asing. akan kujadikan jamu dan bahan pemikiran ke depan.
       Memang sebelumnya tak diduga kalau ia akan pulang. Menemui kedua orang tuanya yang sudah dirajai tulang. Terutama ibunya. Sosok yang kian meranggas itu, semakin gemetaran taktakala anaknya itu datang tak seperti yang ia dambakan. Memang do’a sebelumnya itu pun sebagian terkabulkan.
       Ketika ia kerap mendengar suara-suara sumbang, ia merelakan kebohongan dukun itu --yang menyatakan anak lelaki semata wayang itu tak pulang-- alasan sudah punya rasa tanggungjawab dan terikat tata-tertib pernikahan. Jika datangnya tentu paling tidak sudah beranak dua. Sempat pula terlonjak dengar kibul seorang yang mengaku punya daya terawang yang tajam. Jika pun ramalan yang didamba itu tak kena, menjadi tak beban. Asal pulang pun ibu bahagia nak, begitu saat itu. Ia tak mau mendengar omongan-omongan yang mengerikan. Suara yang membuat sakit hati seorang ibu.
      “Jangan terlalu dikipirkan, ia telah mati bersama yang lainnya. Orang seperti dia memang biasanya kena fitnah. Sabar saja ya, ada baiknya kirimi dia al-fatikhah.  Biar arwahnya tenang,” begitu kata seseorang.
       Saat orde baru runtuh dan berlanjut ke namanya reformasi. Negara dan pemerintahan seakan labil. Di tanah jawa bagian selatan, dari ujung timur sampai barat, tiba-tiba terjadi pembantaian massal. Dengan motif pembersihan tukang santet dan pernak-perniknya. Semula memang tepat sasaran. Tukang santet banyak tertumpas. Namun karena situasi keamanan nyaris jatuh ke titik nadir, aksi itu kian merembet.  Orang-orang yang tak berdosa pun banyak yang korban, misal karena persaingan usaha atau sejenisnya. Asalkan punya duit, lawan-lawan bisa dienyahkan. Semuanya dibuang ke Ciwayang. Nama sebuah jembatan yang curam-terjal, dengan air sungai yang dangkal. Dengan ketinggian lebih dari 40 meter, mayat, --atau yang masih hidup sekalipun-- jika dilempar --kalau tak hancur berkeping --setidaknya kepala bakal pecah.  
      “Makanya, sabar saja, Bi. Mungkin sudah takdirnya ia meninggal dengan cara begitu,” timpal yang lain. Berita pembantaian itu memang sempat geger, apalagi setelah tragedi itu tersiar di televisi. “Kabupaten Selatan Berdarah” begitulah topik yang terus diangkat saban hari dan terus menghangat. Sebagian ada yang puas, namun yang ngeri pun tak sedikit. Karena hampir tiap pagi mayat selalu bergelimang atau mengambang di hilir sungai itu. Tak dimandikan  –apalagi dishalatkan, mayat itu dikubur alakadarnya di tepi sungai. Mungkin sekedar menghilangkan rasa bau busuk yang menyengat semata. Tak ada rasa dan nilai kemanusiaan di situ. Mayat manusia disamakan seperti bangkai binatang.
                                                               ***
       Seraya mengunyah sirih, sore hari perempuan itu terduduk di samping rumahnya. Matanya bertatap nanar. Ada-ada saja omongan yang sampai ke kupingnya. Bukan cuma kasus Ciwayang yang berdarah. Muncul lagi ‘tragedi tulang-belulang’ dimana telah ditemukan tulang-belulang atau kerangka manusia di dalam sebuah  goa. Mereka adalah korban penipuan penggandaan uang yang dibunuh. Kalau tak kena kasus Ciwayang, mungkin ia korban di goa itu. Tulang-belulang yang berserakan di dalam goa itu, pasti diantaranya tulangnya dia. Sabar saja, Bi. Begitulah yang lain berujar. Betapa lunglainya, betapa pusingnya, betapa tak enaknya ia makan. Betapa tak nyenyaknya ia tidur. Betapa…
      Juga. Betapa suara burung itu selalu nyaring terdengar di atas sekitar rumahnya.
      Ngiiiiiiiiiiiiiiik……! ,ngiiiiiiiiiiiiiiiik….!nguuuuuuuuk…….!   ngeek…ngek…!, begitulah. Hampir tiap malam. Suaranya melengking, kadang pula merengek-rengek. Seperti sedih. Laksana burung pengembara yang pulang kehilangan sarang. Kehilangan sangkar. Ruh yang terlepas dari raga yang rusak, kematian yang masih penasaran karena teraniaya. Gelagat apalagi kalau bukan pertanda telah terbunuhnya si dia.
     “Makanya, segera adakan tahlil selama tujuh hari berturut-turut. Namun sebelumnya harus diadakan shalat jenazah dulu, shalat jenazah ga’ib tentunya,” kata seorang tetangga yang kerap mendengar suara burung itu.
      Namun tak sedikit pun ia percaya akan omongan itu. Ia yakin, bahwa anaknya pasti masih hidup. Tak mungkin anak bujang sematang wayang itu --yang kerjanya cuma merenung sendiri pada malam-pagi-siang-sore, tiba-tiba jadi korban kebiadaban. Tak mungkin. Makanya, pulanglah nak, pulanglah segera. Ibumu rindu menanti.
      Seperti apa kata pepatah, doa ibu selalu dikabulkan Tuhan. Karena Tuhan telah menitipkan kasih dan sayangnya pada induk manusia itu.
        Maka pulanglah dia.
        Dan orang-orang yang telah mematikan dengan kata-katanya sangat tercengang. Sekedar menghilangkan rasa malu atas kesalahannya dalam bertutur kata, mereka datang untuk minta maaf. Sekaligus ingin bertemu langsung  dengan orang yang selama itu difitnahkan.
                                                                                ***
      Eyang. Begitulah orang-orang menjuluki dirinya. Nama yang populer dibanding nama aslinya, Badin. Bukan panggilan para cucu-cicit yang memanggil pada kakek atau buyutna –karena berkeluarga pun ia belum. Bukan pula sebuah kehormatan atas dirinya yang sering puasa atau tirakat. Bukan. Sebab setahuku tak ada yang hormat atau sanjung-puja karena dia bukan siapa-siapa. Panggilan Eyang muncul atas tubuhnya yang kurus serta rambut yang kerap memanjang karena jarang dicukur.
       “Orang-orang telah mengira kamu itu telah mati, Yang,” kataku suatu malam, tatkala sering menyambanginya setelah sekian lama tak jumpa.
      “Mati? Aku tidak akan mati!” katanya, seakan menyentakku.
      “Aku tak akan mati dan tak pernah mati!”
      “Lho?” aku ternganga.
      Lalu ia menjawab ketidak mengertianku. Ia tak akan mati dan tak pernah mengalami mati. Juga tak pernah tidur, dan tak pernah mengalami tidur. “Buktinya aku masih ingat masa lalu, aku masih ingat segala macam zaman.  Zaman ramayana, mahabrata, majapahit dan bahkan aku pernah memimpin negeri ini,” ujarnya tanpa dosa.
      Wah?!
      Mungkin aku terhipnotis atau sengaja membiuskan diri untuknya, sehingga apa-apa yang diutarakannya membuat aku mengangguk. Mungkin saja bisa, semua tak ada yang mustahil jika Tuhan menghendaki. Begitu aku pikir.
      Bibirnya yang gosong terbakar rokok itu, tampak bermantra.
      Mantra apa itu sobat, tanyaku dengan bahasa lain. Kadang aku telah terperangkap dan ikut larut di dalamnya. Istigfar dan shalawat nabi, jawabnya dengan suara yang lain. Sebanyak-banyaknya. Terus, sebanyak-banyaknya. Tanpa batas. Tanpa lupa, dan jangan jadi pelupa. Jangan tidur, dan tak boleh tidur. Dan aku tak pernah tidur, aku tak akan mati dan belum pernah mati, gumamnya dalam diam.
      Tapi benarkah itu?, keraguan pun kadang menyungkup. Namun dalam keraguan itu aku tetap manggut-manggut. Aku tahu saat dulu kau jadi anu, katanya. Jadi apa, jelaskan saja, pintaku. Namun, katanya,  tak segampang itu untuk mengucapkan fakta masa lalu seseorang, selain orang itu harus mendalaminya sendiri. Cara pertama untuk mengenal itu, selain harus melanggengkan membaca kalimah thayibah dan shalawat nabi, harus mampu melek selama 45 hari 45 malam. Jika cara itu tercapai barulah segalanya diketahui. Kenyataan dan kepalsuan dalam hidup nampak jelas, juga hal-hal lain yang sebelumnya dianggap mustahil. Dengan kesetiaan tak tidur itulah akan terungkap, katanya.
                                                                          ***
       Jika Sang Guru menyuruh ya patuhilah. Tidur yang kerap mendatangkan lupa dan setengah kematian, jauhilah. Janganlah terlalu banyak makan jika tak mau mengantuk. Dan berjalanlah terus agar kematian itu tak datang mengundang. Biarlahlah orang menganggap gila, dan jangan benci mereka atas tutur katanya yang tak benar. Kebodohan mereka juga adalah rahmat bagimu. Bagiku. Bagi kita. Bergila demi pengkajian adalah suatu nikmat yang tak terhingga.  Maka berjalanlah terus, majulah dengan satu tongkatmu, tongkat keabadian.
       Seorang lelaki sepi. Seorang yang bergelut dengan sunyi terus berjalan menapaki jalur yang dipilihnya. Karena suasana sepinya, kadang ia pun berjalan telanjang. Tanpa berbaju atau bercelana. Tanpa kain pembalut atau pun perban.Tak malu walau memasuki keramaian, memasuki pasar dan pusat-pusat perbelanjaan.
      Tak ada gemerlap baginya, tetap sepi dan sunyi. Hingga keberadaannya dianggap tiada. Ada dan tiada menjadi bukan persoalan. Sebab semua sibuk dengan diri masing-masing.
      Namun tiba-tiba orang-orang di tengah pasar mendadak tercengang tatkala melihat ia melakukan shalat di tengah orang berlalu-lalang. Di lorong sempit, di jalur yang merayap. Karenanya timbul kemacetan. Semula orang-orang benci atas kejadian itu, namun kemudian memakluminya.
      ”Oh..orang gila, pantas kalau begitu. Namanya juga sudah gila,” begitulah kata mereka seraya berlalu. Juga tatkala di sebuah angkot ia mengumandangkan suara adzan, orang-orang  tak ambil pusing setelah sebelumnya memaklumi kalau ia itu orang gila.
      Sang guru memang patut ditiru dan digugu. Suatu malam yang remang sampailah ia pada sebuah perkampungan yang sepi. Bukan alam lain ia pikir, tokh bangunan rumah cukup berjejer rapi di sini. Tapi tampak sepi dari penghuni. Kesepiannya bagai kuburan. Benar-benar mati. Guru bilang, kesepian dan kematian itu timbul akibat tak seorang pun yang terjaga. Mereka terlelap. Semuanya tertidur pulas. Mereka tak meronda atas dirinya. Melangkahlah terus ke ujung kampung, kata sang guru.
       Namun agak tersentak juga tatkala mendengar suara-suara cekikikan mencegat langkahnya. Itu adalah para kuntilanak, teruslah susuri jejaknya. Karena sang guru yang menyuruh, kendatipun bulu-bulu meremang, ia terus melangkah mencari jejak suara itu. Namun walau sudah beberapa meter jauhnya, yang disebut kuntilanak itu tak ditemukan. Itu hanya obat kantuk saja, sebab di tempat yang sunyi tadi kau nyaris terbius dengan kantuk. Begitu kata sang guru.
       Sempat kecewa pada sang guru, katanya dalam pengembaraan akan dijamin segalanya. Asal jangan kematian saja yang dikehendak, niscaya akan dikabul. Tapi kenapa kakinya mendadak korengan. Serupa eksim, hingga tak kuasa ia menahan gatal. Ia tak mampu untuk tidak menggaruk. Kalau sekiranya nikmat garuklah, kata sang guru. Maka dalam hari-harinya ia tak henti menggaruk-garuk koreng itu.
       Tak ada obat yang bakal mampu menyembuhkan koreng itu selain harus makan ikan lubang. Sejenis sidat besar yang belang. Carilah di rawa-rawa atau sungai.
       Pagi, siang, malam, ia terus cari ikan itu. Hingga sampai pada suatu muara, apa yang dicarinya itu tak berhasil. Teruslah sampai berhasil, bisik sang guru. Namun keberhasilan itu tak juga kunjung, bahkan gagal total manakala banjir bandang seketika melumat tubuhnya yang kurus itu hingga kemudian terpelanting ke tengah laut.
      “Guru…guruku..!” pekiknya payah. Tangannya menggapai-gampai mencari sesuatu.
      “Berjuanglah terus, bukankah kau tak ingin kematian yang didapat?”
      Ya, iya, asal jangan kematian yang diinginkan niscaya terkabul.
       Semua kembali pada diri sendiri. Mau hidup atau mati, silahkan mau pilih yang mana. Ya, aku mau tetap hidup, karena kematian hampir sama dengan tidur. Tidur berarti suatu kemunduran dalam gelap. Semoga ketibaan itu dijauhkan. Karena pengembaraan ini pun belum selesai.
       Aku ingin tetap hidup di antara buih dan gelombang. Di antara asin laut dan musim-musim tak terbilang.  
     Tatkala tubuh nyaris karam. Tenggelam tak sampai ke dasar. Sebatang pohon pisang datang mengambang, Sariat memang jangan diabaikan. Seperti sariat tak tidur, bukankah karena rasa takut dan gatal kerap menyergap. Takut adalah obat agar tak ngantuk, begitu pun gatal. Kantuk sudah hilang sejak dulu, gatal mendadak hilang terkena asin air laut. Lalu pelajaran apalagi yang diberikan oleh sang guru, ia tetap menanti.
      Berhari-hari, berminggu-minggu,berbulan-bulan, bertahun-tahun.  Selama kepergian dan kepulangannya , bahkan selama hidupnya. Ia berada di tengah lautan, mengapit sebatang pohon pisang. Pohon yang kerap basah walau kemarau datang.  Ia terus dihantam badai, dipermainkan gelombang dan angin, juga digilas musim-musim .  Namun tubuh kecilnya tak menggigil, menerima terpaan hujan. Sebelum dan sesudah, matahari mengajarkan do’a dan keteguhan. Di samudra kehidupan.***
                                         (Ciamis, awal November 2011).



Otang K., penulis cerpen kambuhan, mulai menulis cerpen dan puisi sejak tahun 1989. Kini tinggal di Ciamis Selatan, Jawa Barat.
      
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar