Sabtu, 01 Juni 2013

Cerpen sebagai Karya Kritik


Oleh : Budi Hatees


K
ritikus adalah kaum yang  pantas dicurigai. Mereka suka diberi label  luar biasa,  kalau tidak memberi label pada dirinya sendiri maupun orang lain.
“Siapa yang mengatakan kamu kritikus?” Seseorang di gedung pengadilan bertanya kepada Adinan, tokoh dalam cerpen berjudul “Kritikus Adinan” karya Budi Darma. Pertanyaan itu tidak bisa dijawabnya. Ia sendiri tak tahu persis, tiba-tiba saja semua orang memanggilnya dengan tambahan kritikus di depan namanya. Tapi, karena panggilan itu, ia pun dicurigai. Pengadilan memanggilnya sebagai tersangka, tapi ia tak tahu kesalahan apa yang disangkakan kepadanya. Ia hanya tahu bahwa sepotong surat panggilan datang dari pengadilan, dan ia harus memenuhi panggilang tersebut.
            Cerpen “Kritikus Adinan” bisa ditemukan dalam antologi cerpen berjudul Kritikus Adinan (Bentang Budaya, 2001).  Sebuah kisah yang mengkritik para kritikus, ditulis dengan nada muram khas Budi Darma yang mengingatkan pembaca pada nasib muram manusia yang tak tahu dirinya dijadikan pesakitan.
            Pada zaman saat orang memanggil Adinan sebagai  “kritikus”,  adalah zaman ketika  penguasa negara menganggap segala bentuk kritik sebagai barang haram. Maka, seseorang yang disebut kritikus dan karenanya pastilah seorang yang hidup dari mengkritisi segala sesuatu, sama berbahayanya dengan segerombolan orang yang membentuk kelompok klandestin. Sebab itu, menjadikan Adinan sebagai tersangka dan dipanggil pengadilan untuk mempertanggungjawabkan sebutan kritikus, itu adalah sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh penguasa yang paranoid.
            Konon, Budi Darma menulis cerpen itu sambil membayangkan HB Jassin. Pada zaman itu,  satu-satunya orang yang dipanggil kritikus cuma HB Jassin  dengan nama julukan yang sangar, Paus Sastra. Cerpen itu sendiri diterbitkan di majalah Horison, di media dimana HB Jassin menjadi penentu layak tidaknya sebuah karya sastra diterbitkan. Tapi, HB Jassin tak menganggap cerpen itu ditujukan kepada dirinya.
Ada banyak karya sastra yang ditulis dengan niat untuk mengkritik. Niat yang diarah secara samar maupun terang-terangan terhadap suatu kemapanan, misalnya, terhadap penguasa Negara yang hagemonik. Ada pengarang yang mengkritik secara terang-terangan, disampaikan secara berani dan berhadap-hadapan secara langsung dengan entitas yang dikritik. Tapi, tidak sedikit yang mengemas kritiknya lewat symbol yang halus, yang membutuhkan penafsiran ketat untuk sampai pada simpul siapa yang menjadi sasaran tembaknya.
            Cerpen “Kematian Paman Gober” karya Seno Gumira Ajidarma termasuk kritik yang tajam, ditujukan kepada pemegang kekuasaan Negara yang hagemonik, Presiden Soeharto.  Cerpen yang mengambil karakter tokoh animasi, Paman Gober, itu merupakan personifikasi Presiden Soeharto. Pada zaman ketika cerpen itu terbit pertama kali di Republika, dampaknya sangat serius karena manajemen perusahaan penerbitan koran itu mendapat teguran keras dari penguasa Negara. Republika pun mengumumkan bahwa cerpen “Kematian Paman Gober”  tidak pernah diterbitkan di koran yang dibangun Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) itu.
            Cerpen itu dibuka dengan paragaraf yang langsung menusuk jantung pemegang kekuasaan negara: “Kematian paman gober ditunggu-tunggu semua bebek. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang mereka ingin ketahui hanya satu hal : apakah hari ini Paman Gober sudah mati. Paman Gober memang terlalu kuat, terlalu licin, dan bertambah kaya setiap hari. Gudang-gudang uangnya berderet dan semuanya penuh. Setiap hari Paman Gober mandi uang disana, segera setelah menghitung jumlah terakhir kekayaannya, yang tak pernah berhenti bertambah.
            Ketika cerpen itu muncul, rakyat di negeri ini juga sedang menunggu kabar apakah Presiden Soeharto, pemegang kekuasaan Negara Orde Baru yang hagemonik dan militeristik, itu sudah mati apa belum. Tiap pagi, setiap warga Negara selalu berharap menemukan berita kematian Presiden Soeharto, sebagaimana situasi yang dialami oleh masyarakat Kota Bebek.  Meskipun, ternyata, kematian yang diharapkan itu tak kunjung muncul. Tapi, yang jelas, kematian kreativitas segera tiba dengan adanya pengekangan kebebasan berekspresi di kalangan sastrawan.
            Tapi, kekangan itu tak membuat Seno Gumira Ajidarma berhenti menjadikan cerpen sebagai medium mengkritik terhadap pemegang kekuasaan Negara. Lewat cerpen-cerpennya yang berkisah tentang implikasi gerakan militerisme Negara di wilayah Timor Timur, yang kemudian dikumpulkan dalam buku Saksi Mata (1994), Seno Gumira Ajidarma mengukuhkan diri sebagai sastrawan sekaligus kritikus yang paling wahid di negeri ini. Kemampuannya mengkritik lebih tajam dibandingkan kemampuan para intelektual, bahkan ia sampai pada kesimpulan “ketika jurnalisme dibungkam, maka sastra yang harus bicara”.
            Pada akhirnya cerpen memang mengandung kritik.  Tapi, sasaran kritik dari para penulis cerpen di negeri ini tidak selalu pemegang kekuasaan Negara, sering juga diarahkan terhadap individu-individu tertentu. Tak jarang kritik yang ditampilkan para sastrawan bersifat personal, menyangkut perkara-perkara yang tak pantas disajikan di hadapan publik sastra. Bahkan, tak jarang cerpen yang muncul di negeri ini mengkritik hal-hal yang terkesan remeh,  yang tak ada kaitannya dengan kepentingan masyarakat secara keseluruhan.
Lemahnya kritik yang disampaikan pengarang lewat cerpen dipengaruhi banyak faktor,  terutama karena kerja mengkritik adalah kerja yang sangat kuat dipengaruhi subyektivitas manusia. Fakta yang dibeberkan pengarang dalam cerpen acap tak bisa ditangkap pembaca, sehingga pesan yang ingin disampaikan terkesan mengada-ada.
Maka, wajar bila ekpresi publik terhadap segala bentuk kritik menjadi sangat beragam. Pasalnya, kritik mengandung konotasi buruk sebagaimana makna semantik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Ketika kata kritik dipakai, orang segera berpikir tentang hal-hal yang buruk. Maka, wajar bila orang kemudian marah, karena merasa kritik membuatnya terlihat buruk. Elite negara pun marah karena merasa kritik membuatnya terlihat tidak mampu, meskipun sesungguhnya para elite di negara ini memang bukan individu-individu yang cakap dengan tugas dan tanggung jawabnya.
            Hampir semua warga bangsa gemar memanjakan kemarahan ketika meneri kritik.  Bahkan, di dalam karya seni, kemarahan seperti itu selalu terjadi. Sebab, ketika kata kritik dipakai untuk sebuah karya seni,  asumsi orang lain langsung pada hal-hal negatif yang ditemukan pada karya bersangkutan.
            Kita tidak bisa menyalahkan persepsi umum tentang kritik, tapi kita bisa menyayangkan betapa kualitas pengetahuan dan pemahaman tentang kritik masih berkelas rendahan. Sama seperti pengetahuan dan pemahaman yang umumnya berlaku di kalangan elite pemerintah, yang langsung menunjukkan kekuasaannya atas dinamika kehidupan sosial-masyarakat, ketika kebijakan-kebijakan yang dibuatnya mendapat kritik. Itu sebabnya, kualitas kritik dalam karya cerpen tidak terlalu menggembirakan, apalagi cerpen yang muncul di era reformasi saat ini.
            Artinya, pembaca sastra jarang menemukan cerpen dengan kualitas kritik yang sejajar dengan cerpen-cerpen Seno Gumira Ajidarma dalam Saksi Mata. Kritik yang disampaikan para sastrawan terlalu personal, sangat individual, sehingga tak layak menjadi konsumsi publik. ***
           

Penulis adalah esais, penikmat karya sastra, tinggal di Kota Sipirok

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar