Jumat, 30 Agustus 2013

Ono Niha (Sabtu, 24 Agustus 2013)



O
NO Niha, begitulah saya mendengar kata itu untuk menyebutkan orang Nias. Ketika berada di Gunungsitoli, Nias, Kamis (22/08/2013) saya mereka-reka, dari manakah asal mujasal orang Nias ini. Sebab, bahasanya begitu berbeda di telinga. Mirip bahasa orang-orang negeri kepulauan.
Setelah bongkar-bongkar referensi, ternyata ada penelitian terbaru yang mengungkap bahwa penduduk asli orang Nias berasal dari Taiwan. Ini berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan seorang ahli genetika, Manis van Houven.
Houven mengambil sampel DNA dari sekira 900 warga Nias. Hasil pemeriksaan menunjukkan ada kedekatan ke titik akurat bahwa orang Nias sangat dominan mirip dengan genetika orang Taiwan.
Sebelum penelitian ini dilakukan, muncul spekulasi bahwa asal muasal orang Nias berasal dari Eropa atau kepulauan terdekat dengan pesisir pantai barat Sumatera, seperti Kepulauan Nicobar atau Madagaskar.
Konon, hasil penelitian Houven ini setidaknya menjawab berbagai spekulasi tentang asal usul orang Nias.
Penelitian Houven pernah disosialisasikan melalui seminar internasional di Gunungsitoli yang dihadiri kalangan pejabat, seperti wali kota dan bupati. Ada pula para akademisi terkemuka berasal dari Kepulauan Nias. Penelitian ini dimotori Yayasan Pusaka Nias.
Ciri khas orang Nias, terutama dari kawasan Nias Utara, Nias Tengah, dan Kota Gunungsitoli, secara dominan dapat diidentifikasi dengan mudah, yakni berambut hitam, berbentuk oval, berkulit putih, dan berpostur tubuh sedang.
Hal ini berbeda sedikit dengan ciri khas orang Nias yang berasal dari Nias Selatan, terutama asal Teluk Dalam yang memiliki wajah lojong dengan rahang keras dan berpostur tubuh tinggi. Meski demikian, mereka juga berkulit putih seperti orang China namun matanya tidak sipit.
Yohanes Hammerle, pendiri Yayasan Pusaka Nias, mengatakan, orang-orang Nias awalnya berasal dari Gomo, yakni salah satu kecamatan di Kabupaten Nias Selatan, tepatnya di Sifalago-Gomo.
Hal in sejalan dengan hasil penelitian Houven, seorang peneliti spesialis DNA, yang menyebut bahwa salah satu suku bangsa besar, yakni Austronesian telah melakukan ekspansi sejak 5.000 tahun lalu. Sebagian besar suku bangsa tersebut merupakan orang Taiwan atau dahulu bernama Yunan.
Hasil penelitian DNA diketahui bahwa secara dominan orang Nias memiliki jenis golongan darah ‘O’ dan diketahui memiliki karakter yang berbeda antara orang Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan, dan kabupaten atau daerah lainnya di Kepulauan Nias. Selanjutnya, dia mengategorikannya sebagai O-M110 dan O-M119.
Hal ini, memiliki korelasi terhadap jenis bahasa yang dipakai. Bahasa yang digunakan di Teluk Dalam sangat berbeda dengan bahasa yang dipakai warga di daerah Nias lainnya.
Dijelaskan pula, pengelompokan jenis karakter genetika tersebut, yakni Y-chromosome haplogroups, ditemukan bahwa genetika dengan tanda berwarna kuning di dalam lingkaran merupakan jenis karakter yang dominan di Pulau Nias. Ini berbeda dengan daerah di Teluk Dalam yang ditandai dengan warna merah.
Jenis karakter warna kuning tersebut juga menyebar di berbagai daerah di Asia Tenggara, terutama Taiwan dan Filipina. Namun, diketahui bahwa Taiwan lebih dominan setelah dilihat dari berbagai pendekatan lainnya.
Daerah Sifalago-Gomo di Nias Tengah, yang diketahui tempat awal orang Nias mulai ada, dalam penelitian ini juga diketahui bahwa sangat didominasi tanda genetika berwarna kuning. Dari sini diketahui bahwa orang Nias umumnya memiliki kemiripan dengan genetika orang Taiwan.
Hingga 25  Agustus 2013 saya berada di kepulauan ini bersama tim dari Balai Bahasa Sumatera Utara. Ah, mau dari Taiwan maupun Filipina, yang penting kita harus tetap menjaga dan melestarikan budaya Nias. Yang terpenting, jangan sampai budaya-budaya asing memengaruhi budaya kita bahkan menghilangkan budaya sendiri.
Apalagi, pulau Nias ini sangat indah, banyak keunikan, berbagai tempat wisata dan budaya seperti Lompat Batu, Tari, Maena, Tari Moyo, Tari Baluse, dll.. Nah, untuk itu Ono Niha AINE DATAHOGO MBANUADA TANO NIHA,,,,, awai and zitola mafa'ema... YA'AHOWU'.. ***

      


Suyadi San, adalah peneliti di Balai Bahasa Sumatera Utara Kemdikbud dan Litbang Harian Mimbar Umum serta dosen Sastra Indonesia di FBS Unimed, FKIP UMSU, dan UISU. Aktif bersastra dan berteater. Menyelesaikan Magister Sains Antropologi Sosial pada Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Medan.  

 
 

MEMUDARNYA KUALITAS SASTRA MEDAN (Sabtu 24 Agustus 2013)

Oleh : Nurul Devi Agustin


D
ewasa ini, sering kita jumpai karya-karya sastra yang dimuat di media masa, baik di koran maupun majalah. Setelah saya amati baik puisi ataupun cerpen yang diterbitkan, tidak sedikit yang menurut pengamatan saya isi di dalamnya kurang menggebrak pembaca. Dalam artian, isinya terlalu biasa dan gampang ditebak ending ceritanya.
Tidak ada yang mengandung unsur yang membuat pembaca bertanya-tanya bagaimana kelanjutan ceritanya, sehingga ada yang ditunggu dari karya tersebut. Semua ditulis secara gamblang, terlalu transparan, terlalu minim menggunakan kata kiasan. Sehingga, kualitas karya tersebut semakin lama semakin berkurang.
Memang tidak semua karya sastra jelek, ada satu karya anak Medan yang membuat saya tertarik untuk mengorek lebih dalam lagi dan menelisik, apakah karya tersebut adalah karya yang berkualitas atau bisa dibilang kacangan.
Saya melihat sebuah buku yang berjudul “CAHYA, Antologi Puisi 53 Penyair” yang melahirkan seniman-seniman baru, rerata penulisnya dari Ranah KOMPAK, KOMPENSASI, KONTAN, dan tak sedikit pula penulis pemula yang berpartisipasi.
Ada satu puisi karya Dhani Sukma yang berjudul “Lelaki Pemuja Hujan”, yang syairnya berbunyi :

Hujan adalah sekawanan rindu yang menelikung di pelipis gerimis, dan aku sungguh mencintainya. Sungguh berhasrat aku, ini malam kembali mencumbu hujan, berpeluk dengan gigil yang menyelinap dalam ragaku selagi jiwaku berbasah kesetiaan.

Tentu kau masih ingat, saat pertama kali kunikahi hujan dan aku melepas birahi

Di atas tubuh-tubuh air hingga kau mendecak kagum; bersebab aku tak jua mencapai klimaks walau tubuhku telah menyenggamai hujan semalam suntuk.

Hujan adalah perempuan yang menyusuiku. Walau usiaku genap seperempat abad, namun aku masih suka memainkan puting susu hujan dan memilin-milinnya sebelum kukulum dan kuhisap. Kadang aku membias semacam bayang, apakah air susu ibuku senikmat susu hujan? Aih, imaji yang nakal. Tetapi sungguh, menikahi hujan adalah penghidupan yang selama ini kurapal dalam doa bersebab hanya hujan yang mendampar ujar; Ingin menjadi ibu dari anak-anakku sebab ia sudah bosan berkelamin dengan langit.

Hujan adalah kelebat cemburu yang berkabar agar aku jangan berkelamin dengan kemarau. Sebab ia tahu, kemarau tak memiliki puting susu yang mampu menderaskan air. Sejujurnya, sempat aku meramu candu asmara dengan sepijar matahari namun aku tak menemu puting yang bisa kupilin, kukulum, sedang aku telah terbiasa menghisap puting susu hujan. Maka aku kembali ke rumah Tuhan; menikmati tubuh-tubuh hujan yang terlentang dalam penantian.”

Nah, dapat kita lihat dan perhatikan bunyi syair di dalam puisi “Lelaki Pemuja Hujan” ini, pada bait pertama saya melihat sang pengarang sedang merindukan seseorang dan sangat mendambakan kehadiran seseorang yang sangat dicintainya. Ia berharap seseorang tersebut akan kembali ke pelukannya, karena dia selalu setia menanti.
Kemudian pada bait-bait selanjutnya, menurut saya, bagi orang awam mungkin puisi ini agak sedikit vulgar dan agak terkesan porno. Karena, ketika pembaca membaca puisi ini maka sedikit tidaknya imaji mereka akan melayang dan bergerak bebas sesuai dengan isi dari apa yang mereka baca.
Sungguh hebat pengarang dalam memainkan kata-kata, sehingga membuat pembaca terhanyut di dalamnya. Imaji pengarang bergerak bebas, dan menulis apa-apa saja sesuka hatinya, dan menulis sesuatu yang menggebrak emosi pembaca hingga si pembaca ingin membacanya sampai selesai.
Jika dilihat dari kaca mata sastra, atau orang yang memang ahli di bidang sastra dan mengerti benar sastra, maka puisi ini adalah sah-sah saja, asal pengarang tahu batasan-batasannya. Kemudian isinya terlalu panjang dan menyerupai sebuah cerpen.
Namun menurut saya cukup bagus. Kiasan-kiasan di setiap baitnya cukup baik dan banyak, sehingga pembaca agak sedikit bertanya tentang makna yang akan disampaikan oleh pengarang. Mereka masih menerka-nerka dan cukup membuat pembaca sedikit dag dig dug.
Berbicara tentang puisi “Lelaki Pemuja Hujan”, di dalam buku yang berjudul “CAHYA”, saya menemukan satu puisi yang terlalu datar dan kurang menantang pembaca, yaitu pada puisi karya Eka Fitri Lestari berjudul “Kasimu”;
Ibu….. kasih sayangmu begitu tulus
Ku ingin melihat canda tawamu
Ku ingin mengecap manisnya bersamamu
Ku tak ingin berpisah denganmu

Lambaian tanganmu begitu lembut
Membelai kepalaku dengan penuh kasih
Tak sedikitpun binar suram dalam raut wajahmu
Ku haus akan rasa yang indah
Kan kuhadirkan untukmu, ibu
Senyum lembutmu membuai hatiku
Rasa kasih ibu tak pernah pudar
Tak tergantikan oleh orang lain

Hidupku sangat berarti bagiku
Kan ku ukir semangatku di dadamu, ibu
Kan kau sematkan dihatiku kasihmu yang tulus

Dapat dilihat dan diamati dari bait ke bait kata-kata yang ditulis terlalu gamblang dan minim sekali menggunakan kata-kata kias, sehingga terkesan membosankan. Kata-katanya sungguh biasa dan terlalu simpel.
Lihat pada bait pertama, di sini pengarang ingin mengungkapkan kepada ibu bahwa ia sangat mencintai ibunya dan tak ingin berpisah. Seharusnya, pengarang sedikit kreatif dalam memainkan imajinasinya. Yah, kalau bisa harus lebih ekspresif sehingga bisa menuju ke perasaan pembaca, bahwa ini loh aku sangat sayang ibuku dan tak mau berpisah dengannya.
Pengarang seharusnya lebih pandai bermain kata-kata, sehingga rangkaian kata-kata tersebut menjadi lebih indah dan tidak terkesan membosankan. Pada bait selanjutnya, sama saja. Sangat transparan sekali dan kurang dalam pendeskripsian tentang sosok ibu itu sendiri.
Varian kata sangat perlu bagi seorang penulis. Kuncinya, harus sering membaca karya-karya penulis lain sehingga bertambahlah kosa kata. Dan di kedepannya bisa membuat puisi yang lebih baik lagi dan dapat mengembangkan imajinasi, sehingga karya sastra anak Medan dapat diakui. Juga, lebih banyak lagi melahirkan seniman-seniman berbakat yang dapat menjadi seniman yang berkualitas baik cerpen, maupun puisinya serta apapun yang berbau sastra. ***




Penulis, adalah alumni Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara


Keluarga Awan Putih (Sabtu, 3 Agustus 2013)

Cerpen : Dwi Agustin Handayani


K
ini bulir embun hampir mengering.  Mentari kian meninggi di atas kepala.  Sendu hati telah berganti  dengan ceria. Semangat pagi awali hari. Lengkung senyum kian mengembang dalam sapa. Tiada guna gundah simpan dalam dada.
            “Uak........,” sapaku pada tetangga samping rumah yang tengah menyapu dedaunan berserakan di halaman rumahnya.
            “Yo, arek ke warung Bill?” balasnya ramah, dalam bahasa Jawa
            “Iya, Uak......” Tak lupa kukembangkan senyumku
            Aku sengaja hari ini bolos kuliah. Sejak libur semester membuatku malas bergegas kuliah. Saban pagi Emak menyuruhku berbelanja ke warung membeli rempah-rempah atau sayuran untuk dimasak. Tanpa jenuh kumelenggang berjalan kaki ke warung.
            Setiap pagi pula kumenyaksikan hal yang sama. Very anak tetangga yang tiap pagi merengek meminta uang saku pada Emaknya. Very anak kelas dua SD, yang menurutku masih terlalu dini sudah memakai jel rambut milik abangnya terlihat sedikit dewasa sebelum waktunya.
 Dengan rambut gaya jabrik masa kini serta tas gendong yang menurutku kebesaran untuknya dengan badan mungilnya kini telah bergantung di punggungnya. Lembaran uang seribu telah berada dalam genggamannya dengan senyum mengembang menghias pagi ini pastinya Very pergi ke sekolah tanpa rengekan lagi.
Kebiasaan Uak Udin yang saban pagi menyapu halaman rumah, hingga tiada satu daun pun yang tertinggal tanpa sengaja. Kerutan di wajahnya tampak terlihat jelas. Usia yang kian bertambah mungkin faktor utama. Tapi. tanpa absen pula kami bertegur sapa saban pagi.
            “Sekalian rumah Billy yah Uak....,” candaku.
            “Tenang Wae Bill, gampang diatur,” balasnya.
            Dan satu hal yang membuatku takjub. Adik sepupuku yang saban pagi mencium tangan emaknya sebelum berangkat sekolah juga kusaksikan. Begitu pula Umaknya yang tak pernah lupa membalasnya dengan cipika-cipiki (cium pipi kanan dan kiri)
            Serasa iri aku padanya. Karena setiap pergi sekolah aku tak pernah melakukan rutinitas itu. Aku bukan pribadi yang selalu salim setiap ingin pergi ke mana pun termasuk pergi sekolah. Mungkin karena tidak terbiasa. Semua itu terekam jelas dalam memoriku. Kejadian yang setiap pagi kulihat.
            Kali ini sebenarnya aku ingin menceritakan tentang keluarga sepupuku itu. Rumahnya tak jauh dari rumahku, hanya kelang tiga rumah saja. Hampir setiap hari aku berkunjung. Kadang mengantar sayur disuruh Emak. Atau sekedar bermain dengan sepupu-sepupuku. Emak sering mengajarkanku berbagi walau hanya sedikit. Padahal mereka jarang sekali berbagi pada kami. Sebulan pun belum tentu mereka berbagi pada kami.
            Emak bilang kalau berbagi harus ikhlas tidak boleh diungkit nanti pahalanya hilang. Aku hanya tersenyum kalau Emak berceramah pada adikku. Dan, setiap aku mengantar sayur matang untuk sarapan, mereka pasti sedang makan sarapan. Yang aku herankan, mereka selalu makan bersama. Tanpa kekurangan seorang anggotapun.
Kebersamaan selalu mereka ciptakan. Keharmonisan dalam canda mereka lukis dalam kanvas memori. Cerita hangat mereka tuang dalam cawan kejujuran. Serasa sempurna hidup mereka. Satu sama lain saling pengertian dan saling memperhatikan. Seperti keluarga awan putih.
Kenapa kubilang keluarga awan putih? Karena jarang sekali ada keluarga seperti mereka. Dan awan putih itu jauh sekali tak mungkkin kita raih. Mungkin hanya impian jika keluargaku dapat seperti mereka. Jauh seperti yang dibayangkan.
Bahkan kerap kali kudengar ayah dan emak bertengkar di depan kami hanya masalah uang belanja yang tak cukup atau bahkan tak terpenuhi. Luka rasa hati ini menyaksikannya. Aku juga tak tau walau begitu emak masih sering memberi sayur pada keluarga terdekat.
Padahal bibiku itu adalah ipar emak. Bukan adik kandungnya. Semoga suasana yang mereka cipta selama ini bukan hanya sandiwara belaka. Jika itu terjadi keluarga mereka benar-benar keluarga awan putih. Yang hanya putih dipandang kasat mata namun nyata tak menduga seperti apa sebenarnya keputihannya tersebut.
Benar-benar sucikah atau hanya sementara dan akan berganti menjadi mendung yang silih berganti karena angin yang datang tanpa kejelasan membawa tumpukan awan putih yang lain kemudian mengganggu ketenangan awan sebelumnya.
Dan kalian tahu. Ternyata apa yang selama ini aku takutkan itu terjadi. Mereka runtuh berkeping-keping. Ternya tiang yang selama ini mereka bangun tidak kokoh. Beberapa minggu yang lalu aku mendengar kabar yang mencengangkan. Pamanku, ayah dari sepupuku itu, berselingkuh dengan janda beranak dua.
Aku juga turut berduka dan merasa tak percaya, ketika Seli sepupuku mencurahkan semuanya padaku. Keluarga yang dibanggakannya kini berubah menjadi mendung yang bercampur gundah. Muram menghiasi wajah mereka. Walau mereka selipkan dalam canda, semua terlihat seperti semu belaka.
Apa yang selama ini kita lihat dengan kasat mata belum tentu itu hal yang sebenarnya. Dan, jangan remehkan hal yang belum tentu indah. Begitu pula dengan segala yang indah, belum tentu itu keindahan yang sempurna dan nyata. ***


Dunia Koma Selasa, 05 februari 2013



Penulis adalah mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muslim Nusantara Alwashliyah

GELANGGANG SAJAK : Zuhair Azka, Otang K. Baddy (Sabtu, 3 Agustus 2013)

Zuhair Azka :
BUKIT LAWANG  II

Bukit Lawang
Airmu bersih, berwarna jernih
Di puncak-puncak bebatuan berwarna putih
Mengalir di sela-sela batuan besar  dan kecil bertindih-tindih

Di atas sungaimu menggantung titi bergantung
Monyet berjalan gontai tak takut dirantai
Sementara kami duduk santai menikmati durian
Memandangi wisatawan menikmati alam

Di lereng bukit di pinggir sungai
Deretan  penginapan bersusun rapi
Menanti pengunjung merehatkan diri

Sungguh indah Bukit Lawangku
Aku sangat suka berada di sana
Berlibur bersama keluarga
Yang sanggup menghipnotis mata
Dengan keindahannya


PUASA

Puasa, menahan diri dari rasa
Menahan lapar yang menjalar
Menahan haus yang mendera
Menahan nafsu yang mengangkara

Dalam bulan puasa ini
Matahari panas terik
Menambah lengkapnya cobaan dari Allah
Bagi kita yang berpuasa

Satu bulan kita berpuasa
Berkesempatan merasakan papa
Untuk mendekatkan diri pada Sang Kuasa

Ya, Allah
Beri aku ketahanan dalam berpuasa
Agar aku bisa merasakan  dekat dengan-Mu




Otang K. Baddy  :
HUJAN SEBELUM FAJAR

hujan pun datang, menjelang angin subuh
mencairkan kepekatan awan
jelaga hidupmu yang kelam
perlahan lenyap bersama fajar
hujan pun datang, membelah kota
menghadirkan jalan setapak
hingga  melangkah pun mantap


ZIARAH /1

pengembaraan liarmu menghadirkan rindu
kampung halaman, tanah leluhur para moyang
dipandang gersang penuh debu. tampak jelas
kematian demi kematian telah lama terjadi
melahirkan sejuta kubur, dan bangkai-bangkai yang terkapar
menjegal langkah di simpang jalan
ketika memulangkanku ke masa silam

dengan air mata kuratapi kehampaan itu
hingga gerimis perlahan terjatuh
di aula yang gaduh


ZIARAH /2

Setelah sekian lama kau kembarakan liar
Melayari laut dan jelajah beribu kota
Makan-minum yang lahap menidurkan
Para perempuan yang tak mampu menaklukan ombak
Saat pelayaran siang yang kadang tak melihat matahari
Dan malam-malam tak melihat bintang, dan bulan itu
Kini menceburkan diri di telaga. Tanpa riak dan ombak
Larut dalam pertemuan yang tunggal. Kekhusyukan  antara  aku dan Kau
Ketiadaan yang sebenarnya ada. Keadaan yang kerap ditiadakan
Semuanya lumat dan lebur di sini. Ziarah
Saat merapat di debur ombak

TAHAJUD

karena malam-malam telah mematikanku
dari cahaya yang diberikan Muhammad
dengan malu-malu kutemui kamu
di belantara yang mencekam
 kubersihkan semua panca inderaku
dengan air wudhu, istirahatlah para ponggawa itu
jangan sampai berseteru

persetubuhan denganmu begitu syahdu
merapat nikmat, tanpa sekarat


TERBACA  AYATMU

akhirnya aku dapat melihatmu juga
ketika mencinta, segenap semesta mengangguk setuju
dalam yang gerak dan diam
semua tersirat, seperti dulu
tak cuma di dedaunan dan batu-batu
di setiap ruang dan waktu

akhirnya aku benar-benar melihatmu
ketika mataku kau pinjamkan, atau sebaliknya
kadang aku pun tak melihatmu
ketika cinta itu hilang
bersama cahaya yang kaupadamkan

                            (Pangandaran, September 2012)




Penonton Teater (Sabtu, 3 Agustyus 2013)




U
nsur penting lain dari teater adalah audience (penonton). Brockett mengatakan, walaupun unsur pertama, materi pertunjukan ada, kemudian pertunjukannya tersaji tetapi tanpa penonton, teater itu tidak terjadi. Pandangan seperti ini hampir disepakati banyak teoretisi seni, termasuk M.H. Abrams yang menyusun teori sastra abad romantik.
Penonton mempunyai peranan penting dalam membangun sesuatu agar menjadi teater. Salah satu yang paling jelas adalah bahwa antusiasme penonton membangkitkan gairah pemain di panggung. Ini terjadi tatkala saya menyaksikan Bengkel Teater Rendra dan Teater Koma,  menggemar lakon ”Selamatan Anak Cucu Sulaiman” (1989) dan ”Sampek Engtay” (2002) di Convention Hall Hotel Tiara Medan.
Begitu juga ketika saya menyaksikan ”Wek Wek” Teater Oncor karya D. Djajakusuma sutradara Ray Sahetapy/Dewi Yull di Taman Ismail Marzuki Jakarta (1994) atau drama bangsawan ”Puteri Hang Li Po” karya/sutradara Rahimidin Zahari di Istana Budaya Pulaupinang, Malaysia (2004), penonton begitu menyesaki gedung pertunjukan.
Mengapa penonton?
Mengamati interaksi antara panggung dan auditorium, bisa digunakan untuk mengidentifikasikan tontonan yang sedang disaksikannya. Secara teoretik, penonton ada banyak ragamnya. Ada penonton yang menonton teater untuk mencari hiburan dan melupakan kesedihan yang sedang menerpa dirinya tetapi juga ada penonton yang ingin memperoleh rangsangan pemikiran mendalam (insigt) tentang hidup.
Ada pula penonton yang telinganya ingin mendengar kritik-kritik sosial tentang kebijakan pemerintah dan mendapatkan seni macam kelegaan batin (katarsis) setelah mendengar umpatan itu, sebab, teater itu merupakan “loudspeaker” dari kemarahannya yang mengendap dalam batinnya, akibat banyak kasus korupsi, misalnya, yang selalu gagal ditangani.
Pengalaman menunjukkan bahwa tatkala di masa popoler Rendra, produksinya yang bersifat kritik sosial, misalnya Mastodon dan Burung Kondor, banyak mendapatkan sambutan penonton. Akan tetapi, ada sementara dramawan yang mencoba mengangkat isu hangat di masyarakat, misalnya Ratna Sarumpaet, tetapi respons penonton sedang-sedang saja.
Ini menunjukkan bahwa penonton sebenarnya tidak hanya menikmati isu, tetapi, yang lebih penting lagi, mereka menonton suatu pertunjukan. Dengan bahasa Brockett, bukan hanya materi tontonannya, apa-nya, yang penting tetap juga performance-nya, yakni bagaimana materi itu dihidangkan.
Pengalaman menunjukkan bahwa penonton sadar bahwa teater tidak menyajikan pengertian tunggal yang definitif, seperti yang dikemukakan oleh Osborne (2001:234), kecuali mungkin penonton dari masyarakat pra-industri yang hidupnya tidak dibayangi oleh deferensiasi. Dalam konteks ini, pertunjukan teater adalah alat pembenar kebaikan umum. Ini tampak pada saat orang-orang di wilayah pedesaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur menikmati tontonan tetapi lebih merupakan kesempatan kumpul-kumpul. Situasi demikian ini juga memungkinkan munculnya sikap fanatik terhadap sistem nilai tertentu.
Dengan demikian, dalam pertunjukan teater masa kini, jika dalam gedung ada 1.000 penonton, tafsir lakon itu juga ada 1.000. Oleh karena itu, pertunjukan lakon Hamlet, misalnya, bisa menimbulkan tafsir yang luar biasa ragamnya. Orang bisa melihat tema lakon itu sebagai pemuda yang terlalu banyak pertimbangan sehingga tidak bisa bertindak cepat dan tepat, sementara yang lain memandang lakon Hamlet sebagai gambaran seorang muda yang dikepung kebobrokan dan kemerosotan moral generasi sebelumnya. Kebetulan, saya pernah berperan sebagai Hamlet dalam lakon ”Abrakadabra alias Hamalet dalam Kebimbangan” di Taman Budaya Medan (1994) dan Taman Ismail Marzuki Jakarta (1995).
Dengan tiga unsur dasar seperti disebut di atas, yakni: materi pertunjukan, bagaimana pertunjukan itu berlangsung, dan penonton, pementasan teater bisa menyajikan dengan amat bervariasi. Akan tetapi, ada dua hal yang pantas diperhatikan. Pertama, apakah unsur-unsur dalam pentas itu disiapkan untuk menyatu dalam satu fokus, atau kedua, unsur-unsur itu dibiarkan berdiri sendiri-sendiri, sehingga lebih tampak sebagai manifestasi pluralistik, yang mungkin malahan memberikan semacam permainan citraan. Tiba-tiba kita ingat kata-kata Marshall Macluhan, “The media Itself Is The Message”. Tampaknya, teater masa kini juga ada yang cenderung menuju ke sana.
Satu lagi yang lantas diperhatikan bagaimana keseluruhan lakon itu mau disajikan. Apakah akan menempuh cara membuat kejutan pada akhir pertunjukan, dengan memainkan rasa ingin tahu (curiosity) selama pertunjukan berlangsung ataukah penonton disuguhi pesona (taksu) yang bermunculan, seperti sajian Teater Mandiri yang memainkan lakon-lakon Putu Wijaya. ***

      

Suyadi San, adalah peneliti di Balai Bahasa Sumatera Utara Kemdikbud dan Litbang Harian Mimbar Umum serta dosen Sastra Indonesia di FBS Unimed, FKIP UMSU, dan UISU. Aktif bersastra dan berteater. Menyelesaikan Magister Sains Antropologi Sosial pada Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Medan.  

 

MENINGKATKAN MORAL BANGSA DENGAN NILAI AGAMA DAN NILAI BUDAYA (Sabtu, 3 Agustus 2013)

Oleh : Eva Juliyanti


M
oral berasal dari bahasa Latin Moralitas  adalah istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang memiliki nilai positif. Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki nilai positif di mata manusia lainnya.
            Moral anak zaman sekarang sudah tidak terarah lagi, rasa malu atau sungkan sudah tidak melekat di diri mereka. Banyaknya kasus-kasus kriminalitas di Indonesia tak lain dan tak bukan dilakukan oleh generasi-generasi penerus bangsa ini. Nama baik  Indonesia sendiri tercoreng oleh tingkah laku anak bangsa sendiri, sama halnya dengan muka ibunya dilumuri kotoran  anak kandungnya.

Apa Penyebabnya ?
            Di era globalisasi ini budaya asing begitu bebas masuk dan memperbudak anak bangsa untuk mengikuti budaya asing tersebut. Jika tidak mengikuti budaya tersebut maka disebut KEZAM atau Ketinggalan Zaman. Sungguh miris budaya Timur ditinggalkan dan budaya Barat dilestarikan.
            Banyaknya kasus yang mencerminkan merosotnya moral anak bangsa misalnya saja saat ini lagi maraknya kasus pornografi dan lebih mirisnya dilakukan anak di bawah umur. Bahkan, para pejabat tinggi negara ini juga melakukan hal yang tidak bermoral. Ada kasus yang belakangan ini sangat mengiris-iris dada bangsa ini , 5 anak SD memerkosa temannya sendiri.
            Kejadian ini dipicu seringnya kelima anak tersebut melihat video porno.Video porno mudah diakses melalui laman (website) atau situs porno yang marak di dunia maya. Walaupun pemerintah sudah memblokir situs-situs porno namun tiap harinya situs-situs porno baru bermunculan.
Dan mungkin kita masih ingat dengan kasus yang sungguh memalukan dan cukup mengiris hati kita, sepasang suama istri rela melakukan hubungan suami-istri di depan umum dan mengizinkan untuk divideokan atau didokumentasikan hanya demi mendapatkan bayaran sebesar Rp. 800.000.
Bukan itu saja, ada kasus kepala sekolah diduga mencabuli belasan siswanya. Kader partai politik juga tak luput dari aksi pornografi dengan melakukan hubungan suami-isti bersama pasangan bukan istrinya.
Terlihat jelas, bukan saja para wong cilik “rakyat” melakukan aksi keji tersebut dan ternyata para pejabat tinnggi di negara ini juga tak mau kalah. Itu masih contoh beberapa kasus pada 2013 ini, jika ditelusuri lebih jauh sangat miris melihatnya.
            Sungguh miris sekali, bukan saja lemahnya moral menjadi penyebab semua itu, namun himpitan ekonomi memaksa mereka melakukan segala cara, seperti yang dilakukan sepasang bukan suami-istri dan kelima anak tersebut.
            Menanggapi persoalan tersebut, sebaiknya pemerintah memberikan perhatian khusus, terutama bagi generasi muda yang akan menjadi penerus dan penegak bangsa Indonesia kelak.Generasi muda kita harus dibekali nilai-nilai agama dan budaya yang tinggi, agar moral dan mental mereka terhadap kecintaan kepada bangsa ini semakin kuat.
            Banyak hal dapat dilakukan untuk meningkatkan moral generasi muda saat ini, seperti menanamkan nilai-nilai agama, mengenalkan dan mengajak untuk melestarikan budaya bangsa dan lain-lain.

Menanamkan Nilai-Nilai Agama
            Agama di Indonesia beragam. Ada Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Budha, Hindu, dan  Konghucu. Masing-masing agama tersebut pasti mengajarkan kebajikan, bukan kebatilan. Dengan melekatnya nilai agama, moral generasi muda ini akan lebih baik dan mulia. Nilai agama ini pun harus dibarengi dengan nilai nasionalisme dan intelegensi yang tinggi sebab jika tidak maka akan ada perang antaragama.
            Para generasi muda akan memiliki rasa takut kepada Tuhan jika ingin berbuat sesuatu yang melenceng atau tidak sesuai dengan agama mereka. Misalnya saja, jika para pejabat tinggi negara ini mempunyai rasa takut dan diawasi oleh Tuhan maka tidak akan terjadi korupsi. Begitu juga dengan generasi muda ini, jika mereka merasa diawasi maka mereka tidak melakukan perbuatan kriminal yang bukan saja mencoreng nama mereka namun nama bangsa ini juga.
            Hancurnya moral karena rendahnya keimanan. Semakin tinggi iman seseorang, semakin tinggi pula akhlaknya. Semakin rendah iman seseorang, semakin rendah pula akhlaknya.

Mengenalkan dan Mengajak untuk Melestarikan Budaya
            Setelah nilai-nilai agama sudah tertanam dengan akar yang kuat dan tidak akan goyang walaupun tertiup badai angin, langkah selanjutnya memerkenalkan budaya-budaya yang dimiliki bangsa ini. Budaya Indonesia sangat beragam dan diwarnai adat-adat atau tradisi yang masih kental. Dengan memerkenalkan budaya Indonesia dan mengajak untuk melestarikan budaya tersebut, akan menumbuhkan jiwa nasionalisme yang tinggi.
            Menanamkan jiwa nasionalisme di sekolah merupakan langkah yang tepat, karena di sekolah itulah generasi muda berkumpul. Tidak perlu lagi mencari orang atau membuat perkumpulan. Di sekolah-sekolah sudah ada pelajaran atau kegiatan ekstrakuliker namun, belum efektif diterapkan.
            Pelajaran sastra sudah cukup efektik diterapkan, dapat dilihat dengan adanya kegiatan seni teater seperti puisi, drama, novel, cerpen, pantun dan lain sebagainya. Dalam pembelajaran sastra juga sudah banyak kepraktikannya, ditandai dengan bermunculan novel-novel, cerpen-cerpen, puisi-puisi, pantun-pantun dan pemain drama karya anak bangsa
            Pelajaran sastra sudah cukup baik. Namun sayangnya masih ada sekolah yang belum menerapkannya, khususnya sekolah-sekolah swasta yang berada di daerah terpencil, karena masih kurangnya perhatian pemerintah terhadap sekolah tersebut.
            Pelajaran seni budaya dalam penerapannya hanya teori saja. Anak akan merasa bosan jika dalam proses belajar mengajar tidak ada seninya atau monoton hanya teori saja. Hasilnya pelajaran tersebut tidak akan melekat di diri anak. Alangkah baiknya jika pelajaran tersebut langsung dipraktikkan. Anak pun merasa senang dan tidak bingung karena mereka terlibat langsung.
            Misalnya, dalam pelaaran seni budaya memelajari jenis-jenis tarian yang ada di Indonesia. Jika guru hanya memberikan teori dan metodenya hanya menghafal maka siswa jenuh dan sebaliknya jika guru mengajarkannya disertai dengan praktik, maka anak akan merasa senang. Anak merasakan sendiri tarian-tarian tersebut.
            Anak diberikan teori, pikiran anak akan terbayang-bayang. Contohnya, jika anak tersebut bersuku Jawa dan pada guru menjelaskan tentang tarian Batak, yaitu Tari Tor-Tor, maka anak tersebut akan bingung dan dia akan membayangkan gerakan tangannya, tubuhnya dan baju yang dipakai. Dengan praktik langsung, anak akan lebih paham baju yang digunakan, gerakan tangan, gerakan tubuh dan lain sebagainya.
            Nilai-nilai agama dan nilai-nilai kebudayaan yang tertanam di jiwa generasi muda dibarengi dengan intelegensi yang tinggi akan membangkitkan semangat mereka membangun bangsa ini menjadi bangsa yang maju dan makmur. Secara otomatis, generasi muda akan menjaga moralnya demi nama baik bangsa. ***



Penulis, adalah mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

           


MALAM SETENGAH BULAN (Sabtu, 27 Juli 2013)

Cerpen: Indriani

                       
”R
uslaaan...laaann...Ruslaaann....” Teriakan serak para nelayan saling bersahutan.

”Tadi aku masih nampak, dia.”
”Dari tadi akupun uda ajak dia pulang. Pulang Lan, mau magrib!”
”Macam mana ni, hari da mau gelap.”
”Min, pigi kau pulang minta tolong sama orang kampung.”
Orang-orang kampung berdatangan. Zikir magrib berganti dengan serakan suara-suara yang saling bersautan. Pintu kuala dipenuhi cahaya lampu sentir yang menjelajahi setiap sudut bibir kuala.
”Ruslaaan...laaann...Ruslaaann....”’

***
Malam masih pekat; udaranya menghujam sum-sumku. Aku meringkuk di atas ranjang yang beralaskan tikar, kutarik sebuah sarung untuk menutupi seluruh tubuhku, mencoba kembali berlabuh ke dunia mimpi. Tapi suara berisik dari dapur membuatku kembali tersentak.
Dari lubang-lubang kecil dinding tepas kamarku yang berada tepat di sebelah dapur, dapat kulihat seseorang sedang sibuk lalu lalang mengerjakan sesuatu. Rasanya enggan, tapi kucoba untuk bangkit dari ranjangku berjalan menuju dapur.
            “Ayah mau pigi ke laut?”
            “Ya,”jawab ayahku sambil sibuk menyiapkan perlengkapan melautnya.
            “Anginkan sedang kencang, yah.”
            “Sudah! Sana tidur lagi”.
            “Tapi, aku mau ikut ayah.”
            “Paul...paul.... Tugas kau belajar, biar pintar. Kalau kau pintar, kau bisa jadi orang yang sukses. Kerja di kantor, bukan kayak Ayah kerja di laut.”
            Entah sudah yang keberapa kalinya ayah mengatakan hal itu padaku. Ia begitu ingin aku menjadi seseorang yang dapat ia banggakan. Saat ia bercerita dengan teman-temannya di pangkalan bahwa pemenang lomba azan itu adalah anakku, saat ia bercerita dengan teman-temannya di warung kopi bahwa pemenang lomba cerdas cermat itu adalah anakku, saat ia bercerita dengan para wali murid di sekolah bahwa peraih juara umum itu adalah anakku, Paul Aulia.
Aku tahu apa yang kucecap saat ini adalah mimpi-mimpi ayah yang tenggelam saat seusiaku. Ia tidak pernah memenangkan perlombaan azan di kampung karena ia sibuk bergumal dengan ikan-ikan yang ada di pangkalan. Ia tidak pernah memenangkan perlombaan apa pun karena ia lebih memilih berlomba dengan ombak laut. Ia tidak pernah mendapatkan juara umum di sekolah karena bangkunya saja belum pernah  ia duduki.
            Ini tentang ayah, tentang hidupnya, tentang masa kecilnya, dan tentang mimpi-mimpinya yang terkubur dalam jalinan pukat. Saat anak-anak yang lain di malam hari berselubung dalam mimpi, ia harus bangun dan pergi melaut; saat anak-anak yang lain di pagi hari sibuk akan pergi ke sekolah, ia harus berkubang dalam pukat; dan saat anak-anak yang lain di sore hari bersiap dengan rapi pergi ke mushola untuk mengaji, ia sibuk memilah ikan di pangkalan.
Ia tidak seperti anak-anak yang lain. Saat anak-anak yang lain menggulung dan melempar gasing, ia harus menebar dan menarik pukat yang beratnya berkali lipat dari tubuh mungilnya; saat anak-anak yang lain bermain petak umpat, ia juga akan bermain petak umpat bersama ikan di laut; saat anak-anak yang lain bahagia mendapat hadiah ketika pembagian raport, ia akan bahagia saat menerima upah hasil penjualan ikan.
Ayah tidak benar-benar menikmati masa kecilnya. Sejak kaki-kakinya tegak kokoh berjalan ia harus jadi kuli di laut. Sejak sumpah serapah agen-agen ikan di pangkalan menjadi lalapannya setiap hari. Sejak kicau-kicau budak laut menjadi tidak asing ditelinganya. Sejak sampan, pukat, kail, piber menjadi bagian dari hidupnya. Sejak saat itu tawa riang anak-anak berganti senyum getir di bibirnya.
            Lekat dalam ingatanku saat melihat senyumnya ketika mengantarkanku pertama kali ke sekolah. Pagi-pagi sekali ia membangunkanku, memandikanku, memakaikan seragam merah putih lengkap dengan dasi siap pasang dan topi merahnya.
            Rasanya seperti hari raya, aku memakai baju baru. Meski baju itu terlalu menutupi tubuhku, lengannya menenggelamkan siku-sikuku, rongga ketiaknya terbuka lebar memudahkan angin keluar-masuk. Tapi terlihat kecil ketika sebagian dari baju itu dimasukkan ke dalam celana kemudian diketatkan dengan tali pinggang karet bergambarkan tunas kelapa di kepala penggaitnya.
            Kubiarkan saja ayah melakukan itu. Ia terlihat begitu bahagia. Diangkatnya tubuhku ke atas pundaknya. Tangannya erat memegang tanganku. Berjalan ke sekolah. Kemudian berlalu pergi meninggalkan senyum tipis di bibirnya.
            Senyum itu akan selalu muncul saat kuperlihatkan nilai sepuluh di buku tulisku, saat kuperlihatkan angka-angka pada raportku, walau ia harus meminta tetanggaku untuk mengisi kolam tanda tangan orang tua/wali murid.
            Senyum itu akan muncul saat aku berlari membawa pulang sebuah piala, lupakan ia akan kerut karena sedikitnya hasil tangkapan. Senyum itu akan muncul saat ia melihatku menjadi guru pribadi adikku.
            Senyum itu akan muncul ketika ia mendengarku dengan fasih mengaji. Itu senyumnya, senyum yang mengisaratkan bahwa ia bangga padaku.
            Dan aku lebih bangga padanya, meski bau amis air garam selalu melekat di tubuhnya. Meski ia hanya bisa mengusap ubun-ubunku dengan tangan kasarnya.
            Meski ia hanya membalas rengekanku dengan dengusan dari hidungnya. Meski suara serak yang keluar dari bibirnya selalu mengejutkanku. Meski dengkurnya selalu membangunkanku.
            Meski bibir hitamnya tidak pernah mengatakan bahwa ia sayang padaku. Karena aku tahu tiap tetes peluhnya sudah berbicara lebih, karena aku tahu setiap malam ia selalu ke kamarku memperbaiki selimutku yang terjungkang, karena aku tahu diam-diam dia selalu memeriksa isi tasku dan melengkapi isinya, karena aku tahu yang selalu mengisi botol minumanku adalah dia, karena aku tahu dalam doa sujud terakhirnya ada namaku.
Aku tahu meski ia terlihat tidak memperdulikan rengekanku, tapi dialah orang yang begitu memikirkannya. Pernah aku meminta ayah membelikanku sebuah mobil-mobilan yang terbuat dari kayu. Mobil itu berbentuk kap terbuka, di atasnya terdapat sebuah penggait, penggait yang menyatukan gagang stir dengan roda kemudian dihubungkan dengan seutas tali. Mobil itu berwarna-warni, bahkan ada yang menyerupai mobil truk pengangkat kopra.  
Semua teman-temanku memilikinya. Begitu juga aku ingin memilikinya. Bagi mereka mungkin sangat mudah membelikan sebuah mobil mainan untuk anaknya. Tapi tidak bagi ayah. Karena harga mobil itu setara dengan harga beras dua kilogram di rumah kami.
Ayah memang tidak mampu membelikannya, tapi aku tidak habis pikir kalau ayah berniat membuatnya sendiri. Hari itu setelah mengangkat ikan ke pangkalan, ayah bergegas pergi ke pintu kuala. Di bibir pintu kuala itu terdapat daratan yang banyak ditumbuhi pohon bakau. Ayah menebang salah satu pohon bakau itu, tapi malang tak dapat dihindar, kaki ayah terkena benturan mata parang yang terlepas dari hulunya. Sejak saat itu aku berjanji tidak akan minta apa pun dari ayah.
Malam ini tetap sama dengan ribuan malam yang ia lewati seumur hidupnya, ia hanya tidur seperempat malam selebihnya ia habisi untuk menyetubuhi laut. Tapi, sungguh dari ribuan malam itu, malam ini aku tidak ingin ayah pergi. Aku ingin ayah tetap di sini, di rumah ini sesekali melewatkan waktu bersama kami. Seperti saat pertama kali ia mengantarkanku pergi ke sekolah. Seperti mereka yang setiap akhir pekan menghabiskan waktu bersama untuk berlibur. Tapi, ayah terikat kontrak dengan laut dan ia tidak bisa libur begitu saja, ia harus tunggu saat laut mengisaratkan bahwa hari ini dia tidak usah melaut karena angin sedang kencang atau air laut masih surut.
            Air laut sudah memberi izin libur untuk ayah malam ini. Tapi, ayah adalah pekerja yang rajin ia tidak ingin libur, ia tidak mau kalau dia libur asap didapur kami tidak akan mengepul. Hidup kami memang bergantung dari laut. Laut adalah ladang kami. Dia ladang yang baik karena kami tidak perlu membeli dan menabur pupuk untuknya, kami juga tidak perlu membuat dam untuk pengairannya.
            Malam masih pekat, udaranya tak bersahabat dan masih bersihkeras menghujam sum-sumku. Tapi, tak menyurutkan niat ayah. Berbekal pukat yang sudah ia perbaiki jalinannya, ia pergi dengan kain sarung yang masih terselempang di tubuhnya, ia pergi dengan harap akan membawa senyum untuk kami. Aku mengantarnya dari depan pintu, pungungnya semakin menjauh kemudian menghilang.
***
            ”Ini diaaa...”
Teriakan itu menyentakkan semua orang. Sampan-sampan merapat ke deretan bakau yang mengapit pintu kuala. Sebuah sarung tersangkut di akar bakau, membalut tubuh yang telah beku.
Arak-arakan itu membawanya ke hadapanku. Tubuh lemah Ibuku memeluk ketiga adikku, ratapannya tak lagi terdengar karena suaranya terkuras sejak mendengar kabar ayahku. Sementara aku terpaku di depan pintu.
Malam ini bulan hanya setengah, Yah. Dulu aku sangat menyukainya karena Ayah pernah bilang kalau itu adalah senyumanku, dan disetiap malam itu laut sedang panen, Ayah akan membawa banyak ikan untuk kami. Tapi sekarang aku membencinya yah, karena malam ini, itu bukan senyumanku tapi air mataku.
                                               
                                                *====*

                                                                                   Medan, 10 Maret 2012